Minggu, 20 Juni 2010

Perempuan

Perempuan di mata Perempuan


Perempuan pasangan laki-laki, itu yang selama ini di pasangkan dalam duniaku dan sebagian dunia teman-temanku, tapi tidak semua perempuan berharap dengan laki-laki walaupun aku sangat berharap.

Tidak terlalu penting membicarakan apakah perempuan berpasangan dengan laki-laki atau sebaliknya atau bakhan tidak berpasangan sekalipun.
Aku lebih menyukai sebutan perempuan jika dibandingkan cewek dan wanita, bagiku interpretasi yang coba di jawab oleh bapak dosenku bahwasanya perempuan asal kata dari empu : yang memiliki, sehingga makna perempuan lebih pada sosok pemilik dirinya sendiri, mungkin begitu tepatnya. Wanita, dari ungkapan tanah jawa yang berbunyi wani di tata atau yang diartikan dengan mau di suruh-suruh ( mungkin begitu jika diindonesiakan ) kemudian disingkat menjadi wanita, terminology ini yang memaksa aku untuk selalu menggunakan Perempuan dalam setiap pandanganku
Walaupun pernah suatu hari aku membentak seorang teman laki-laki ku ketika dia menyebut kami wanita, dan memaksa aku mencari buku yang benar mematenkan makna wanita dan perempuan, walau buku itu tak kudapat dan aku tak berniat mencarinya, dibenakku tetap perempuan
Hingga pada pertengahan mei 2010 aku diterima untuk mengikuti pelatihan dengan jargon seksualitas dan otonomi tubuh ( reproduksi), panjang pertemuan, panjang pembahasan, panjang pemahaman hingga meyakinkanku makna perempuan memang benar dia harus mampu memiliki dirinya penuh si“empu”nya.


Terkadang perempuan pun jadi tidak memiliki dirinya sendiri karena perempuan yang lainnya, dudukku di pelataran kampus membaca, menulis sambil menyaksikan moleknya para mahasiswi di kampus ini, dengan berbagai postur tubuh, make up, fashion style, sampai pada bran yang mereka gunakan, televisi sekali mereka ini. Ini yang mendasariku mengatakan terkadang perempuan tidak memiliki dirinya seutuhnya.
Perempuan di mata perempuan, posting yang membuatku tercengang pribadi
Banyak perempuan yang berteriak seolah-olah mereka prihatin dengan kondisi perempuan disekitarnya, namun teriakan mereka itu hanya dijadikan sebagai alat menarik simpati orang luar yang mau menyumbangkan sepersekian dollarnya agar perempuan di Negara lain mampu berkembang.


Banyak perjuangan atas nama perempuan, namun banyak juga yang menentang perjuangan perempuan karena kacamata masing-masing perempuan dalam melihat masalah perempuan pun berbeda. Sebenarnya apa yang membuat perbedaan itu, simple mungkin kalau saya berpendapat dipengaruhi dengan dimana perempuan itu berada, latar belakang pendidikan, pengalaman, dan lingkup keluarga sehingga mempengaruhi pandangan mereka dalam memandang perempuan.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar